03 November 2009

MIMPIKU

Mimpiku

Aku ingin piring-piring ini penuh nasi
Walau hanya berlauk sambal terasi
Untuk makan malam ini
Bersama anak juga isti

Aku ingin piring-piring ini penuh nasi
Supaya saat terbangun nanti
Badan bugar kembali
Bisa lari pagi
Nikmati kicau dan pendar matahari

Aku ingin piring-piring ini penuh nasi
Begitu juga esok hari
Agar kami bisa beraktifitas lagi
Anakku sekolah pagi
Istriku menunggui
Sedang aku sendiri
Bekerja untuk menafkahi

Aku ingin piring-piring ini penuh nasi
Sekedar turut menikmati kekayaan negri ini
Wee…et, kayakah negri ini?

Ya, saling mengingatkan saja
Bahwa negri tercita kita ini sangatlah kaya
Bahwa kekayaan negri kita tiada duanya
Jamrut katulistiwa,
Itu katanya.
Gempita nusantara
Mungkin itu semangatnya.
Gita pesona
Bisa saja selogannya.

Yah, negri yang sangat kaya.
Yang setiap jengkal tanahnya bisa diuangkan
Yang setiap tetes airnya bisa dijadikan uang
Yang lebih baik, jangan diboroskan
Yang tak kalah baik, jangan dihamburkan
Kecuali, untuk anak cucuk kita kelak.

Saling mengingatkan saja
Bahwa setiap jenglah tanahnya sangatlah subur
Maka seharusnya, rayat juga makmur
Tidak banyak yang nganggur
Hanya tidur dan mendengkur
Atau kukur-kukur
Saat teman bernasib mujur

Saling mengingatkan saja
Untuk selalu berlaku jujur
Kalau semuanya, seharusnya bisa diatur
Karena semua bisa diukur
Tongkat saja bisa ditandur
Berbuah dan mengepulah dapur
Lalu kenapa mungkin kita nganggur
Kapan mungkin kita nganggur
Kalau semua telah mudah diatur
Tinggal saja tidur
Uang datang dan terukur
Tinggal berhitung mundur
Nasi dan lauk datang sesiwur
Jadi akan sangat malu jika nganggur

Lawong pengemis saja kerja
Dengan jualan cerita nestapanya
Lawong pencopet saja kerja
Bahkan siap pertaruhkan nyawa
Hanya untuk uang sereceh saja
Masak mau diem saja

Saling mengingatkan saja
Kalau nengri ini santun dan jujur
Maka malulah, jika terus menggantung
Atau bergantung
Maka malulah, jika tak mau bersukyur
Dengan mengaku sebagai hamba dengkur
Yang tak kerja alias nganggur
Agar dapat girik uang makmur
Dan juga nasi sesiwur.

Aku ingin piring-piringini penuh nasi
Agar senantiasa mensyukuri
Nikmat ilahi rabbi
Dengan terus bekerja kembali
Untuk menafkahi anak istri

Aku ingin piring-piring ini penuh nasi
Yah, sekedar sebagai pembukti
Kalau kaya negri ini.

Demak, 10 Agustus 2009
Masalwi

26 Oktober 2009

Nostalgia Sepasang Camar

Nostalgia Sepasang Camar
Mass Alwi

Lelaki tua itu kembali terbangun untuk kesekian kalinya, kembali dia menggeliat, memasang wajah gelisah dan tak menentunya. Sampai saat kokok ayam dan nyanyian burung mulai menemani gundahnya, dia beranjak, namun tidak jauh dari tempat berbaringnya kini. Dipandanginya langit timur dari balik daun jendela yang menyisakan lobang sebiji mata.
“Kapan pagi itu datang” gumamnya tak menentu.
“Kau gelisah?”
Suara itu begitu mengejutkannya, namun tak sempat membuatnya melompat dari tempatnya mengintai matahari.
“Hanya, kurang yakin, maka itu aku mengintipnya.”
“Buka saja jendelanya, tidak akan lama lagi pagi akan datang menghampiri subuhmu.”
“Benarkah?” jawab Sua, lelaki tua kurang percaya.
“Seharusnya, karena burung-burung sudah mulai bernyanyi.”
“Sudah dari tadi, ayam berkokok, tapi pagi tak juga datang.”
“Tapi dari tadi burung belum bernyanyikan?”
“Memang, kecuali…”
“Kecuali yang barusan kamu dengar kan?” Sua hanya tersenyum, tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dia bergegas menghampiri Is, istrinya, yang duduk di atas ranjang sambil mendekap bantal karena kedinginan.
“Buka dulu jendelanya, bila tidak nanti kita ketinggalan subuh seperti kemarin dan kehilanagn pagi seperti yang sudah-sudah,” pinta sang Istri sambil semakin rapat mendekap kedua kakikinya dan meletakkan dagunya diantara kedua lututnya.
“Kau kedinginan!” Tanya laki-laki tua kemudian.
“Sebentar juga hangat.” Sua berbalik kearah jendela, berhati-hati dia buka kuncinya, dengan sedikit ragu dia genggam erat pegangan jendela,
“Jangan kau buka dulu!” cegah istrinya kemudian.
“Kenapa?”
“Aku ragu!”
“Apa yang membuatmu ragu.”
“Apakah pendengaranku masih baik?”
“Tentu saja, kenapa?”
“Kau menghiburku?”
“Tidak,”
“Kau tidak sedang berbohong?”
“Kau dengar aku.” Sua mencoba meyakinkan Is, namun Sang istri tetap saja masih ragu, dia beringsut, semakin mendekat kearah suaminya yang renta, namun tetap tersisa gagah mudanya.
“Aku membaca bibirmu,” ungkap wanita renta itu yakin, namun sesaat kemudian diapun mulai ragu. “tidak, tidak mungkin aku membaca bibirmu.”
“Kenapa tidak.”
“Sejak sepuluh tahun terahir mataku rabun dan Pak Mantri itu telah mengatakan kalau mata ini harus dioprasi bila ingin melihat lebih jelas lagi, tapi kemungkinannya juga tipis atau hampir tidak mungkin. Itu kalau dia mau berterus terang.”
“Matamu masih bagus, kalau tidak percaya, coba tebak aku sedang apa?” canda Sua meyakinkan istrinya.
“Memegang gagang jendela dan mau membukanya,” jawab Is mantab, tanpa setitikpun keraguan.
“Betulkan, pengelihatanmu masih bagus, matamu tidak rabun, jadi tidak perlu operasi.”
Is mulai sangat yakin dengan keadaan dirinya, kalau dia tidak rabun terlebih buta. Kalau penglihatannya masih bagus atau bahkan sangat bagus dan tidak perlu operasi. Tapi hal itu tak dirasakan lama, karena mendadak dia diliputi keraguan untuk kesekian kali.
“Kenapa? Kelihatannya kamu masih ragu?”
“Aku tidak sungguh-sungguh melihatmu.”
“Buktinya kamu tahu apa yang aku lakukan?!”
“Itukan kebiasaanmu, aku hapal betul kebiasaanmu.”
“Benarkah?” sumringah, lelaki tua semakin bersemangat. Darah mudanya seolah menggelora kembali, semangatnya memucuk lagi, setinggi pucuk-pucuk daun pepaya. Langkahnya menderap lagi, layaknya derap kuda yang kelelahan. Nafasnya menderu, seperti halnya raung panser Belanda di era perjungannya dulu.
“Aku tidak pernah bohong soal ini. Aku tidak pernah bohong padamu, terlebih soal dirimu.” Is balik meyakinkan suaminya, namun suaminya tidak buru-buru yakin. Meskipun begitu, Sua terlihat lebih antusias dan mulai lebih mendekati istrinya ke bibir ranjang. Meninggalkan daun jendela yang tidak lagi jadi dibuka.
“Benarkah yang kau katakana barusan?” sekali lagi Sua mencoba meyakinkan dirinya, mendesak Istri dengan satu pertanyaan saja, namun terus diulang, hingga puluhan kali jumlahnya.
“Kau meragukan aku?!” jawab istri dengan Tanya dan agak sedikit kesal, karena merasa tidak lagi mendapatkan kepercayaan dari kekasihnya, suaminya, garwa/sigaraning nyawanya (belahan jiwanya).
“Bukannya aku tidak percaya, aku cuma ingin meyakinkan. Barangkali saja aku salah dengar atau mungkin kamu salah mengatakan.”
“Berarti kau tidak percaya padaku. Kau meragukan aku, sangsi akan kejujuranku dan ketulusankau.” Is tampak sedikit kecewa dengan sikap Sua, dia palingkan wajahnya kea rah lain, yang berupa diding kusam diujung pandangnya.
“Maksudku bukan begitu sayang,” hibur Sua pada Is.
“Lalu apa?”
“Aku takut telingaku sudah tuli, sudah benar-benar tidak mendengar lagi.”
“Mana mungkin telingamu tuli, nyatanya kita bisa saling mengerti.”
“Apakah kamu tidak sadar, kalau selama ini kita selalu bicara dari hati-kehati.”
“Itu bukan berarti kedua telinga tidak berfungsi.”
“Tapi aku yakin, kalau telingaku sudah menjadi tuli.”
“kenapa kamu begitu yakin?”
“Hampir sepuluh tahun terahir ini aku tidak lagi mendengar suara jangkrik. Burung-burung hantu yang biasanya bernyanyi sambil sambil mengintai dari dahan ranting pohon mundu depan rumah, sudah lebih dulu terbungkam. Subuh tak lagi terdengar kumandangnya ditelingaku. Pagi tak lagi memperdengarkan kokok ayam dan kicau burungnya. Apakah kau mendengarnya sayang?” Is tak menjawab, dia hanya mengernyitkan dahinya yang sudah penuh dengan kerutan, layaknya lipatan kain kusut yang hampir tidak pernah tersentuh seterika. Tanpa menunggu jawaban dari Is, Sua pun meneruskan khutbah panjangnya, bahkan sangat panjang dan hampir tak berujung, tapi tak sepenuhnya fokus pada satu topik saja, ngaltur dan ngoyoworo.
“Ya, ya sayang, rasanya sudah lama sekali kita tidak pernah mendengar lagi suar-suara itu. Apa bener telinga kita sudah mulai tuli.” Is mulai mengiyakan khotbah suaminya. Dia mulai sependapat dengan Sua, kalau mereka sebenarnya sudah mulai tuli.
“Dulu, setiap pagi tiba, setiap kali matahari mulai mengintai, bumipun mulai riuh, bising dengan suara-suara kentongan yang ditabuh berpuluh kali. Bising dengan suara senapan yang dikongkang dan diletuskan dan tetu saja suara teriak rintih ksakitan diiringi rembes darah dari kepala yang tertembus pelor. “ lanjut Is.
“Rasanya baru kemarin aku memanggul bedil, tapi hari ini sepertinya tbuhku sudah lemah, bahkan hamper tidak bisa berjalan lagi.” Keluh Sua sambil menyandarkan tubuh di sudut ranjang.
“Sudah ratusan hari, aku tidak dengar lagi desing peluru, letusan mesiu, teriakan memburu. Meskipun aku sempat takut, was-was, cemas, tapi aku tak pernah merasa terbebani.”
“Rasanya baru kemarin aku memuntahkan peluru, tapi hari ini tanganku sudah gemetaran saat harus mengangkat secangkir kopi saja.”
“Aku berlari, saat hujan turun dengan sangat lebat, tapi bukan untuk berlindung, bukan untuk berteduh, aku tarsus mencari diantara mayat yang bergelimpang dan ditinggalkan. Aku selalu tersenyum ketika yang aku cari tidak aku temukan, tapi aku sempat menangis, miris, saat harus mengangkat mayat-mayat yang gugur itu untuk dikebumikan.”
“Malam aku merapat kebenteng pertahanan lawan, ketika pagi tiba aku merapat kesungai-sungai dan celah-celah tebing. Setelah agak siang aku kembali kesawahku, yang tak jarang memerah dialiri darah teman atau lawan yang gugur diujung irigasi.”
Keduanya semakin asik dengan diri mereka masing-masing, dengan lamunan masalalunya yang hamper sama namun tak serupa. Sama-sama bermuara pada masa-masa perjuangan, namun berbeda dalam mesikapinya.
“Apakah kau masih sering mendengar genderang perang itu, sayang?” tiaba-tiba saja pertanyaan itu meluncur dari bibir Sua untuk istri tersayangnya.
“Sama sekali tidak?”
“ Berarti benar, kalau telinga kita sudah mulai tuli. Karena aku juga hanya dengar kesunyian yang hamper tidak berujung.”
“Akupun hanya dengar itu, behkan terkadang tidak dengar sesuatupun…”
“Berarti kita memang sudah benar-benar tuli.”
“Apakah kau masih sering melihat keribuatan dan keriuhan, saat kau mengintip dari lubang jendela itu, sayang?”
Sua tidak menjawabnya, dia hanya menggelengkan kepala, sambil mengerutkan dahinya dengan ragu, seolah-olah hendak mengingat-ingat sesuatu yang mungkin keluapaan.
“Kalau begitu, bukan telinga kita yang tuli, tapi mata kita yang rabun.” Lanjut Is, sambil mendekat kejendela.
“Kau akan membukanya?”
“Ya, untuk memastikan. Apakah benar mata kita rabun atau telinga kita yang tuli.”
“Kau yakin akan membukanya?”
“Tentu. Kau mau ikut?” Sua berjalan mendekati Is istrinya dengan tergopoh-gopoh. Is segera menerima tangan Sua yang hendak meraihnya, hingga ahirnya kedua tangan mereka bersatu, layaknya remaja yang sedang bercinta.
“Kau yakin akan membukanya?” lanjut Sua, sambil menggenggam erat tangan Is.
“Seharusnya.”
“Kenapa seharusnya?”
“Karena kau belum juga lepaskan tanganku. Kalau kau lepaskan tanagnku, maka aku akan membukanya.”
Perlahan Sua melepaskan tangan Is, namun sebelum tangan itu benar-benar telepas, kembali Sua meraih tangan Is dan menggenggamnya lebih erat.
“Ada apa kelihatannya kau begitu takut?” Is bisa merasakan keraguan dan ketakutan menyelimuti Sua. Dibiarkannya tangan Sua, menggenggam erat tangannya, dan dibiarkan pula Sua memeluk dirinya dengan satu tangan, sementara tangan satunya tetap menggenggam tangannya dan meletakkannya di dada.
“Ada apa?” Is terbawa cemas.
“Aku hanya sedikit khawatir!” suara Sua bergetar, tubuhnya bergetar. Seperti ada selaksa ketakutan menghinggapinya.
“Tenang, tidak akan terjadi apa-apa.” Is mencoba meyakinkan Sua.
“Biarkan aku yang membukanya.”
“Kamu yakin?”
“Yakin. Mungkin lebih yakin dari yang kau bayangkan.”
“Baiklah…eee tapi...” Is tidak meneruskan bicaranya. Perasaan takut, cemas, was-was, kini kuat hinggap pada diri Is. Seperti cemasnya orang yang akan ditinggalkan untuk waktu yang tidak menentu. Seperti akan ditinggalkan untuk perjumpaan yang tidak tentu.
“Tapia pa?”
“Apakah tidak lebih baik, kita buka bersama-sama jendela itu?”
keduanyapun lantas saling pandang. Mencari totik kesepakatan dengan tatapan mata mereka. Sampai ahirnya mereka menemukan kata sepakat dengan kerling kedua mata mereka.
“Baik, kita buka bersama.” Ungkap Sua.
“Hati-hati,” lanjut Is.
Berjingkat, keduanya mendekati jendela, membuka kembali grendel kuncinya dan bersama-sama siap mendorong daun jendelanya.
“Dalam hitungan ketiga, sama-sama kita dorong, kita buka,”
“Tapi jangan cepat-cepat, karena bisa mencurigakan, pelan dan wajar saja,” Is memberi nasehat seperti seorang yang memaparkan setrategi perang disaat-saat genting dan terjepit. Tentu saja hal itu dilakukannya dengan berbisik.
“Satu…dua…tiga,” Sua memberikan komando danperlahan keduanya mendorong jendela itu. Setelah jendela itu terbuka, mereka tidak menemukan apapun kecualai hamparan halaman yang masih sangat pekat dengan gulita malamnya.
“Aku tak melihat sesuatupun, kecuali pekat,” kata Is pelan.
“ Kelihatannya begitu juga aku,” Sua mengiyakan apa yang dilihat Is.
“Aku tak mendengar papapun, termasuk desingan peluru, letusan mesiu.”
“Aku juga tidak.”
“Apa benar mata kita telah rabun atau bahkan buta?”
“Aku rasa begitu.”
“Apa benar telinga kita sudah tuli.”
“Sepertinya pastinya begitu.”
Keduanya tetap berdiri di depan jendela, dengan kedua mata mereka mencoba mencari-cari, barangkali ada yang masih bisa mereka lihat dan temukan. Telinga berkali diputar bersama iramakepala yang berbutar, seolah mencari dan mencuri dengar. Namun tetap saja keduanya tidak menemukan apapun juga kecuali gelap dan sunyi. Tiba-tiba keduanya meraakan lain, ketika ada cahaya dan hanagat dirasakan mendekat dari arah belakang, namun keduanya tidak berani untuk menoleh kebelakang. Mungkin ragu atau mungkin pasrah.
“Apakah mungkin ini sudah waktunya?” ungkap Is sedikit memelas.
“Mungkin saja.” Penuh kasih dan kesabaran Sua memeluk istrinya, sehingga Is merasakan sedikit tenang dan merasa aman. Sementara cahaya itu semakin lama semakin kuat, semakin terang dan semakin dekat dengan keduanya.
“Kek, Nek kok belum tidur?” Suara yang terdengar seiring semakin bercahayanya kamar itu, seolah menyadarkan keduanya dan menumbuhkan keberanian keduanya. Keduanyapun segera melempar pandangan kearah sumber suara.
“Meli” kompak keduanya menyebut nama gadis cantik pembawa lilin dan berhias senyum ramah itu.
“ Lampunya mati, mungkin ada gangguan atau sengaja dipadamkan. Maka dari itumeli kesini membawakan lilin sebagai penerangan.” Sepasang renta itu hanya manggut-manggut mengiakan.
“Di musim hujan hal seperti ini sudah biasa…Kek, Nek, jangan berdiri dekat jendela seperti itu, nanti sakit. Angina malam tidak baik untuk kesehatan. Lebih baik Kakek dan Nenek tidur. Subuh nanti Meli bangunkan” Meli meraih tangan keduanya dan mengantar keduanya ke tempat tidur. Menatakan posisi bantal dan terahir memasangkan selimut untuk keduanya.
“Tidur yang nyenyak, jangan lupa mimpi yang indah.” Meli beranjak, menutup jendela kembali dan meninggalkan sepasang kakek nenek itu lelap dalam mimpi mereka.
“Rupanya kita belum buta.”
“Kita juga belum tuli.”
Kedua pasangan renta itu saling berbisik sambil menutup kedua mata, seiring pintu yang berderit saat ditutup kembali oleh Meli, cucu mereka.

Yogyakarta, 19 Agustus 2007

08 September 2009

26 Maret 2008

Masih Dikota Tua

birunya langit kota tua, menambah gagah penampilan wajahnya. hilir mudik disekelilingnya, tak sekalipun melunturkan kemegahannya. disinilah mungkin, kicau itu akan bernyani lagi dan menyertai para pejalan di esok hari. (foto:S Hadi)

kota kita


bergabunglah dalam barisan anak perduli bangsa, partisipasi anda kami tunggu. ini bukan probaganda tapi keperdulian terhadap bangsa ini, yang tentu butuh perhatian kaum muda.
(foto:S Hadi)

04 Maret 2008

MARI TERSENYUM

MUMPUNG GRATIS
Siang itu seorang lelaki muda, tampak kelelahan. setelah beberapa lama keliling ngamen. lelah itupun bercampur dongkol, soalnya sampai tengah hari belum juga dapat hasil lumayan. sampailah dia di pertokoan. namun masih juga nihi. setiap toko yang didatanginya selalu memajang tulisan atau pengumuman bahwa ngamen hanya ada pada hari tertentu saja. misal ngamen senin, selasa, rabu dan seterusnya, namun tak ada yang nyebut ngamen hari itu yaitu jumat. sampailah dia di ujung pertokoan, di sana tertulis ngamen gratis. dia pun nggeloyor pergi, namun sesaat kemudian kembali dan langsung memainkan sebuah lagu. setelah memastikan pengumuman yang tertera bahwa ngamen gratis.
pemilik toko yang seorang wanita itupun langsung menghampirinya.
"Mas gak pernah makan bangku sekolahan ya."
"Keras mbak." jawabnya singkat.
"Gak bisa baca?"
"Jelek-jelek gini lulusan SMU Negri."
"Kok masih ngamen."
"Mumpung gratis mbak. dari pada bayar."
Sontak wanita itupun terdiam sedikit anyel dan terpaksa menikmati suara lelaki yang jauh dari merdu
Mas Alwi

SEKITAR KITA


Budaya Itu Bernama Honda
Manusia adalah mahluk yang berbudaya, berbudhi dan berdaya upaya. Tidak seorangpun di dunia ini yang tidak berbudaya, karena sudah menjadi sifat dasar manusia saling tergantung dengan yang lain. Ketergantungan terhadap yang lain, baik itu sesama manusia maupun semesta dan isinya inilah yang kemudian menghadirkan kebiasaan demi kebiasaan. Kebiasaan yang hadir dalam diri dan juga hadir dalam sekelompok orang.
Secara sederhana, kita mengenal budaya sebagai kebiasaan yang telah disepakati atau terlegitimasi oleh banyak orang atau umum, baik itu secara sengaja disepakati dan diagendakan maupun sesuatu yang benar-benar bersumber dari kebiasaan semata. Tentu saja kebiasaan-kebiasaan yang muncul dalam kehidupan manusia merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri, baik itu dari segi moral ataupun material. Bertujuan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan yang telah menjadi mimpi setiap manusia.
Budaya itu sendiri berasal dari bahasa sangsekerta yaitu buddayah, yang merupakan bentuk jamak dari budhi (budi atau akal), berarti sesuatu yang berhubungan dengan budi dan akal manusia. Budaya dalam istilah inggris disebut culture berasal dari kata latin colore yaitu mengolah atau mengajarkan (Wikipedia.com/24-02-2008).
Menurut Edward B. Tylor, yang dimaksud dengan budaya adalah keseluruhan yang komplek, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian moral, hukum adat istiadat dan kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Sementara Soemardjan dan soelaiman soemardi berpandangan bahwa kebudayaan adalah sarana, hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. (wikipedia.com/24-02-2008).
Memperhatikan penjelasan di atas, bisa diambil pengertian bahwa hasil dari budaya atau kebudayaan bukan hanya sesuatu yang bersifat seni atau bentuk kerajinan semata, seperti kebanyakan masyarakat umum tahu. Melainkan cipta karsa dan karya masyarakat yang bertujuan untuk kemaslakhatan dan kemakmuran bersama. Tentu saja hal itu bisa saja berupa bahasa, perilaku, tatanan kehidupan sampai hasil teknologi yang dicapai. Seperti yang telah dikatakan Melvile J. Herskovits, bahwa kebudayaan memiliki empat unsur pokok yaitu: alat teknologi, system ekonomi, keluarga dan kekuasaan politik. (Wikipedia.Com).
Dengan beragamnya suku bangsa, ras dan bahasa tentu saja akan menambah semakin kompleks kebudayaan yang ada, berarti pula semakin banyak pula kebiasaan yang kuat dengan cirikhasnya masing-masing. Hal itu dikarenakan dorongan kebutuhan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Perbedaan-perbedaan itulah yang kemudian bisa menandai dan menjadi pertanda khusus bagi satu dan lainnya. Karena antara masyarakat satu dengan lainnya pastilah akan mempunyai symbol yang berbeda, namun ada pula yang sama. Misalkan di satu tempat, mengangguk merupakan pertanda setuju atau mengiyakan, namun di tempat lain hal itu bisa saja bermakna sebaliknya.
Tidak perlu jauh-jauh mengambil contoh, cukup di negri ini saja. Berbagai macam suku bangsa, ras dan juga kebiasaan mengisi seantero Indonesia. Bahkan untuk satu suku Jawa saja bisa memiliki bentuk keragaman budaya yang bisa saja berbeda satu dan lainnya. Hal itu bisa saja dipengaruhi masalah geografis masyarakat ataupun kebiasaan yang telah turun-menurun dipercayai kebenarannya. Missal yang sederhana yaitu, tentang logat dan beberapa istilah yang berbeda-beda antara satu dan lainnya. Banyumasan dengan ngapaknya, Yogyakarta dominant fokal “O” nya, pesisiran pantura dengan “E” nya dan masih banyak lagi. Selain itu ada juga istilah-istilah yang hanya dipahami masyarakat tertentu saja, meskipun sama-sama Jawa. Karena hadirnya satu istilah tertentu di satu tempat tertentu, terkadang di bagian lain istilah itu tidak digunakan atau bahkan memang tidak pernah ada.
Selain contoh sederhana di atas, mungkin kita bisa mengambil hal lain yang merupakan produk budaya. Seperti trasportasi dan juga alat-alat transportasinya. Dewasa ini, berbagai macam alat transportasi telah banyak ditawarkan, dari darat laut dan juga udara. Sebuah simbol budaya yang pada beberapa dasarwarsa lalu kurang marak bahkan terkesan mewah dan mimpi saja. Salah satunya adalah alat transportsi darat yang kini bisa dimiliki masyarakat luas secara mudah dan semakin terjangkau, yaitu kendaraan bermotor. Semakin kedepan paket hemat dan murah mudah didapat masyarakat, sehingga kepemilikan akan kendaraan pribadi seolah menjadi kebutuhan. Karena itu pulalah pola hidup dan pandang masyarakatpun lambat laun berubah, tidak lagi menganggap kendaraan bermotor sebagai barang mewah, melainkan seperti telah disebutkan yaitu kebutuhan yang harus terpenuhi.
Merek atau Jenis Produk
Cukup banyak produsen kendaraan bermotor yang bermain dan mencoba peruntungannya di Nusantara ini, dengan segala merek dan jenisnya, baik itu jenis roda empat maupun roda dua. Baik itu mewah maupun kendaraan keluarga yang tentunya murah meriah. Berbagai macam merek itu terus saja bersaing untuk mendapatkan sepotong kecil kue keuntungan dengan berbagai macam kiat dan cara untuk menarik konsumen sebanyak mungkin. Segala macam cara dilakukan, pengiklanan dioptimalkan. Diskon, kridit dan juga iming-iming hadiah, dari yang langsung sampai undianpun ditawarkan. Sehingga pola pandang masyarakat benar-benar bergeser dengan segala kemudahan itu. Benar juga, lambat laun pola pikir itu bergeser juga dan kebutuhan itu bertambah juga, yaitu dengan kepemilikan kendaraan pribadi. Bahkan sekian hari semakin banyak saja produsen yang mencoba peruntungan itu. Sehingga semakin banyak merek berseliweran dan semakin banyak pula pilihan serta kemudahan.
Dari sekian banyak merek yang hadir dan bermain, baik itu merek luar dan hadir utuh ke negeri ini, merek luar yang produksi atau rakit disini sampai merek yang mengatasnamakan karya pribumi, hanya ada beberapa merek yang betul-betul menyatu dalam kehidupan masyarakat. Dari yang sedikit itu berkibarlah nama Honda sebagai merek yang benar-benar teruji mampu membumi di ranah Nusantara.
Tidak perlu diperjelas lagi, mulai kapan, bagaimana dan seberapa besar kiprah Honda di Indonesia. Kebanyakan orang mungkin hanya akan menjawab “sudah lama”, jika di suguhi pertanyaan, sejak kapan Honda menancapkan benderanya di ranah Nusantara ini. Merekapun akan menjawab “Honda”, bila disodori pertanyaan “kendaraan bermotor roda dua disebut apa?”. Memang hal itu tidak terjadi di setiap tempat di Nusantara ini, melainkan di sepenggal daerah di Indonesia, seperti di Jawa, khususnya Magelang dan sekitarnya.
Di daerah tersebut Honda tidak lagi dikenal sebagai brend atau merek sebuah produk sepeda motor, melainkan sebagai motor itu sendiri. Hal itu juga berarti bahwa sepeda motor adalah Honda dan Honda adalah sepda motor, tanpa melihat merek yang tertera dalam prodak sepeda motor itu sendiri. Bahkan ada satu hal yang cukup unik untuk diungkap, yaitu ketika mereka disodori pertanyaan tentang apa merek sepeda motornya, maka mereka akan spontan tergagap atau bahkan menjawab “aku tak punya”, meskipun sebanrnya mereka punya. Sebab asumsi mereka bahwa motor atau juga dieja montor berarti mobil dalam artian umum. Sementara ketika mereka disodori pertanyaan “apa Hondamu?” maka dengan spontan mereka akan menyebutkan farian atau merek sepeda motor yang mereka punya. Tidak perduli itu farian Honda ataupun merek lain. Misalkan Honda Supra, Honda Gren, Honda Karisma atau merek lain mengikuti dibelakangnya, Honda titik-titik.
Tidak pernah tahu sejak kapan fenomena ini terjadi, namun yang pasti hal ini bisa membuktikan bahwa Honda telah melekat erat dalam kehidupan masyarakat. Meskipun mungkin bukan merek Honda yang pertama hadir di lingkungan masyarakat tersebut. Namun setidknya Hondalah yang pertama mengena di hati masyarakat dan menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Terbukti sampai saat ini penyebutan Honda sebagai ungkapan pengganti sepeda motor di sebagian masyarakat masih berlaku dan digunakan, mungkin tidak akan luntur dalam kurun beberapa waktu kedepan. Tidak tahu pula ini unsure kebetulan atau memang setrategi bisnis pabrikan untuk mendapatkan pasar. Namun diduga itu merupakan sebuah kebetulan, karena memang demikianlah kebiasaan sebagian masyarakat setempat. Meskipun begitu, diduga pula pabrikan berperan juga dalam membentuk asumsi masyarakat menjadi seperti itu. Setidaknya hal itu terjadi bisa dikarenakan produk inilah yang pertama bisa dimiliki masyarakat umum dengan hanya merogoh kantong tidak cukup dalam. Sehingga produk tersebut dengan mudah memasyarakat dan terkengingang di benak orang-orangnya.
Fonomena ini bisa membuktikan bahwa, ada satu bentuk budaya atau kebiasaan yang kini hadir dalam kehidupan atau di balik penggunaan istilah tersebut sebagai pengganti kata sepeda motor. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa dengan menyebut kata Honda, orang akan paham bahwa yang dimaksud adalah sepeda motor. Memang kasus seperti itu tidak hanya terjadi pada merek pabrikan Honda saja dan bukan suatu hal yang istimewa, sebab penyebutan serupa itu juga tejadi pada produk lain. Misalkan penyebutan ankutan berjenis mini bus sebagai KOPATA, penyebutan pompa air dengan merek tertentu, penyebutan angkot dengan merek mobil tertentu dan sebagainya dan sebagainya. Meskipun sederhana, namun hal ini bisa sangat berguna dalam kehidupan masyarakat secara umum. Sesab hal seperti itu atau serupa itu bisa digunakan untuk mengidentifikasi seseorang atau kelompok masyarakat tertentu.
Sekarang siapa sebenarnya yang diuntungkan dengan fenomena tersebut, pabrikankah atau masyarakat umum. Pada dasarnya keduanya diuntungkan karena hal itu. Bagi masyarakat umum hal itu bisa dijadikan sebagai identitas diri seperti yang telah diuraikan dan bagi pabrikan setidaknya hal itu bisa digunakan sebagai sarana untuk iklan yang tentu saja murah meriah.
Kebutuhan atau Gaya
Alat transportasi apapun jenisnya, selain kebutuhan bagi masyarakat juga bisa merupakan prestise bagi golongan tertentu. Hal itu terjadi bukan hanya di era ini saja namun juga jauh sebelum masa ini berlangsung. Bahkan dipercaya oleh masyarakat Jawa bahwa tolok ukur kesuksesan seseorang bisa dilihat dari empat hal yaitu, pangan, sandang, papan dan tunggangan ( pangan, pakaian, tempat tinggal dan kendaraan atau alat transportasi). Orang belum dikatakan benar-benar sukses atau makmur sebelum empat hal itu terpenuhi dengan sempurna. Hal tersebut juga berarti bahwa setrata sosial seseorang bisa naik dengan tercukupinya semua elemen tersebut. Tentu saja apa bila kesemuanya ditinjau dari segi materi.
Bagi orang Jawa, seseorang belum dikatakan sukses atau makmur dalam arti sempurna apa bila hal tersebut tidak terpenuhi. Misalkan seseorang hanya kecukupan sandang, pangan dan papan, tentulah strata sosialnya di bawah dari orang yang telah berkendaraan. Sedangkan oarang yang hanya bisa mencukupi sandang dan pangannya saja, bisa dikatakan bahwa orang itu tergolong kekurangan. Sementara yang hanya memenuhi tiga elemen pokoknya saja maka kesejahteraannya dikata belumlah lengkap.
Memperhatikan penjelasan tersebut di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa kendaraan berpengaruh terhadap strata social seseorang. Namun dewasa ini, setelah semuanya bisa di raih dengan mudah, seperti dengan kredit kendaraan, maka pola itu sedikit bergeser. Kebutuhan kendaraan akhirnya bisa pula di sandingkan dengan gaya hidup. Sehingga merek terkenal yang akhirnya menjadi tolok ukurnya. Hal serupa itulah yang kemudian terjadi pada produk pabirikan Honda di negri ini. Setidaknya masyarakat umum akan menganggap biasa saja bila kendaraan yang dimilikinya bermerek lain selain Honda atau Honda yang bukan Honda. Meskipun secara teknologi, disain, harga, nyaris sama atau hampir sama.
Diduga paradikma itulah yang berkembang dan lebih memayarakat. Sehingga masyarakat merasa telah sehati dengan satu merek yang tentu saja telah terpercaya bagi sebagian besar mereka. Terlebih saat buta aksara mulai pudar dari kalangan masyarakat Indonesia, merekapun bisa memilih mana Honda yang Honda dan mana Honda yang bukan Honda dengan membacanya. Sehingga perkembangannya Honda-pun jauh bisa lebih mengakar lagi.
Setelah era sepeda motor sebagai ukuran kesuksesan, khususnya untuk masyarakat menengah ke bawah. Kini sepeda motorpun masuk pada era kebutuhan dan mereklah yang kini menentukan tolok ukur social tersebut. Seiring dengan hal itu, Kini Honda-pun hadir sebagai gaya hidup yang cukup elegan. Dipercaya oleh sebagian besar masyarakat, diantara merek-merek lain yang semakin merebak dan kompetitif. Sebagian masyarakat itu masih saja percaya atau mempercayakan Honda yang benar-benar Honda sebagai penanda identitas yang elegan dan bergaya.
Urian di atas menunjukkan bahwa memang produk, ekonomi dan juga kebiasaan seseorang merupakan bentuk kebudayaan yang tidak bisa dinafikan keberadaannya. Sementara prodak-prodak mutakhir saat ini bisa diplot sebagai simbolisasi kebudayaan modern secara umu.